Rewel-rewel Pemirsa Televisi : Kelas Musik kontra Kelas Ngihik

Mengacu pada judul yang saya susun, kemanakah tulisan ini dituju? Saya tujukan pada PT Global Informasi Bermutu, lembaga penyiaran swasta yang diberikan izinnya sebagai stasiun televisi swasta nasional (berjaringan) kesepuluh. Perusahaan ini yang mengoperasikan stasiun televisi bernama GTV (sebelumnya mengudara dengan nama Teve Global dan Global TV)

Beberapa hari yang lalu, saya membahas protes pemirsa yang acara MTV-nya disunat oleh Global TV, awal tahun 2005. Pemberitahuan pengubahan format siaran stasiun televisi nasional ke-11 ini memang sudah disebar melalui iklan di dua saluran televisi pendahulunya, RCTI serta TPI.

Di lain kubu, keberadaan Global TV sebagai stasiun televisi dengan mengedepankan aspek religi, dipertanyakan. Dalam Opini Majalah Tempo, edisi tahun 2006,  benang kusut pendirian Global TV merupakan tabir dimana investor yang ingin membangun sebuah stasiun televisi bisa saja dilakukan hanya  bermodal kedekatan dengan birokrat, tanpa harus memikirkan dana. Benang kusut ini terulang di era-transisi rezim Orde Baru ke era-reformasi. Sebelumnya, kasus ini pernah terjadi pada saat stasiun televisi berdiri dan mengudara di awal tahun 1990-an.

Merdeka Citra Televisi, Sanitya Mandara, Indo Ramako, dan Cakrawala Bumi Sriwijaya, adalah salah satu perusahaan yang telah memeroleh izin dari pemerintah, namun berakhir tragis karena tidak dapat mengudara, sampai kesemuanya dileburkan pada jalur stasiun televisi yang punya kekuatan modal dan kekuatan birokrat. Jadilah, AN-Teve dan IVM (kita sebut sebagai Indosiar)

Bukan tanpa alasan kalau Media Nusantara Citra, yang kala itu menjadi induk dari Global TV, memangkas jam tayang siaran MTV. Selain karena proses kebijakan otoritas penyiaran yaitu Komisi Penyiaran Indonesia, biaya belanja program MTV termasuk yang paling mahal. Sekalipun MTV di Indonesia sudah tercantum dalam perseroan, memproduksi konten lokal, serta membangun studio di Indonesia, kenyataannya semua itu tidak dapat mengurangi pembengkakan harga program yang terus melambung, ibarat sembako yang terus melambung harganya dan membuat masyarakat menjerit. Kali ini, investor yang dibuat menjerit. Pemilik Global TV bisa dibilang pusing tujuh keliling jika harus mempertahankan program MTV selama 24 jam di stasiun televisi tersebut.

Baca Juga Artikel Berikut!  Catat! Ini Dia Tanggal Fans Screening Film Detektif Conan : Zero!

Tapi, pemirsa kala itu juga merasa kehadiran MTV di layar kaca Indonesia, ibarat angin segar. Dahulu, acara musik yang ada di stasiun televisi, tidak bisa dikemas seinovatif MTV. Maklum, layar kaca Indonesia memang penuh dengan dinamika. Hari ini musik lawas, esok lusa bisa jadi trennya berubah jadi musik dangdut, dan esoknya bisa berubah, seiring dengan permintaan pasar. Bahkan, Global TV cukup berani untuk memperkenalkan lebih luas siaran MTV ke pemirsa Indonesia melalui frekuensi UHF.

Agustus 2002, dimana “Teve-Global” (nama yang tercantum di layar kaca) masih menguji-coba siarannya, sudah bisa menghadirkan siaran MTV dengan durasi 24 jam penuh di 14 kota secara serentak. Ini tentu jauh berbeda pada saat MTV diperkenalkan di AN-Teve, Mei 1995 silam. Kala itu, AN-Teve hanya dapat diterima di 7 kota besar (Jakarta, Bandung, Semarang, Medan, Makassar, Bandar Lampung, dan Surabaya), ditambah siaran khusus MTV Asia yang dapat diterima secara gratis melalui Parabola.

Tapi Global TV bisa menghadirkan 2 kali lipat, bahkan secara serentak. Kota yang bisa langsung menerima Global TV di tahun 2002 adalah 7 kota yang menerima siaran AN-Teve, ditambah 7 kota lainnya yaitu Yogyakarta, Manado, Denpasar, Jambi, Palembang, Balikpapan, dan Pontianak.

Antusiasme pemirsa muda dengan adanya MTV, juga membuat para produsen dapur rekaman unjuk gigi. Sebagai suatu alternatif yang tidak disia-siakan, produsen musik berskala besar mencoba peruntukkannya melalui siaran MTV. Tapi,  sayang seribu sayang, antusiasme ini tidak dibarengi dengan pendapatan dari iklan yang masuk serta memudarnya branding Global TV yang pada beberapa majalah tidak pernah menyebutkan nama stasiun televisi itu, sangat jarang sekali.

Iklan yang ditayangkan di MTV, kebanyakan berasal dari luar dan bukan dari Global TV. Sementara itu, operasional Global TV selama mengudaranya MTV lebih didominasi berasal dari subsidi silang keuntungan yang didapat dari saudara pendahulunya, RCTI. “Untung jadi buntung” ini dianggap tidak dirasakan pemirsa fanatik, sehingga akhirnya pemangkasan MTV di Global TV mendapat reaksi keras.

Baca Juga Artikel Berikut!  Game Rhythm ‘Hatsune Miku’ Mulai Rambah Pengguna Smartphone

Alternatifnya, Global TV mencoba menyuguhkan acara yang diharapkan dapat meredakan kekecewaan fans MTV. Ya, benar. Bisa meredakan, sekalipun tidak sedikit pula pemirsa enggan menyaksikan kembali Global TV. Namun, perubahan format acara di Global TV ini justru menarik pemirsa lain. Terbukti, kerjasama Global TV dengan Viacom International Inc. dalam hak siar kartun Nickelodeon mematahkan keputusasaan akan masa depan Global TV. Sebelumnya, hak siar Nickelodeon dipegang oleh Lativi, dan bahkan ada yang dipegang TV7 serta AN-Teve.

Namun, apa yang sebelumnya dipegang Lativi, TV7 serta AN-Teve, sudah berada di tangan Global TV. Tentu, petanya jadi berubah. Global TV mengubah segmentasi ke arah anak-anak. Sementara para pemirsa jenuh, bisa menyaksikan program lain di Global TV, termasuk sinetron racikan ketiga putri produser terkemuka, Leo Sutanto. Segmentasi pemirsa kelas musik seketika berubah jadi pemirsa kelas tengik !

Pemirsa MTV pun dibuat kecewa dengan pengubahan format Global TV. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Pemangkasan siaran MTV, banting setir ke kelas tengik, hingga puncaknya terjadi pada pergeseran jam tayang. Mulai 15 Januari 2005, MTV saat itu ditayangkan mulai jam 9 pagi hingga 2 siang, serta diteruskan pada pukul 1 dini hari hingga menjelang Global TV memutar lagu Indonesia Raya. Jelas, pemirsa MTV tidak memiliki waktu, kecuali harus begadang atau rela bolos. Sabtu dan Minggu, jam tayang MTV justru kian dipersempit. Hingga pada tahun 2012, kerjasama antara Global TV dan MTV dinyatakan berakhir.

Perdebatan soal kelas musik dan kelas tengik ini punya sisi positif dan negatif. Terlebih, iklim penyiaran Indonesia selalu saja berubah. Lagi-lagi, opsinya hanya satu : “Pasang televisi berlangganan sajalah”

Leave a Reply