[REVIEW FILM] Shoplifters, Harta Yang Bukan Milik Kita Adalah Keluarga

Konon film yang digarap oleh sutradara Hirokazu Kore-eda ini adalah yang paling dinanti dalam pekan Japanese Film Festival 2018. AWAS SPOILER!

114
Peringatan: Review ini mengandung spoiler!

Pada penutupan Japanese Film Festival 2018 di Bandung, kami menyaksikan penayangan film terakhir yang berjudul Shoplifters. Dalam bahasa Jepang film ini berjudul 万引き家族 (Manbiki Kazoku, secara harfiah berarti Keluarga Pengutil). Konon film yang digarap oleh sutradara Hirokazu Kore-eda ini adalah yang paling dinanti dalam pekan Japanese Film Festival 2018. Sebab terdapat berbagai penghargaan film yang diraihnya. Terutama yang paling terkenal adalah Palme d’Or, yang merupakan penghargaan tertinggi dalam Cannes Film Festival yang bergengsi itu.

Dengan judul tersebut, kita bisa tahu bahwa film ini bercerita tentang kehidupan para pengutil. Hal tersebut juga didukung saat awal adegan yang menggambarkan dua orang yang terlihat. Seperti seorang ayah bernama Osamu Shibata (Lily Franky) dan seorang anak kecil bernama Shota Shibata (Kairi Jyo) sedang bekerjasama mengutil dalam sebuah toko swalayan. Lalu saat perjalanan pulang, mereka menemukan seorang gadis kecil yang usianya lebih muda dari Shota. Osamu dan Shota memutuskan untuk membawa gadis yang bernama Yuri (Miyu Sasaki) tersebut ke rumah mereka karena tampak sendirian dan tersesat di tengah cuaca dingin.

Ketika sampai di rumah, cerita berkembang menuju hal yang lebih intim, yaitu ketika mulai ditunjukkan tentang siapa dan bagaimana keluarga mereka. Sebuah keluarga yang hangat dan sederhana, bahkan terlihat hidup dalam kemiskinan. Anggota keluarga lain yang hadir dalam rumah tersebut adalah istri dari Osamu, yaitu Nobuyo Shibata (Sakura Ando). Lalu adik perempuan Nobuyo, yaitu Aki Shibata (Mayu Matsuoka), dan nenek Hatsue Shibata (Kirin Kiki).

Film Thriller Yang Menampilkan Kehangatan Keluarga

Sepintas kehidupan mereka terlihat cukup biasa bahkan terlihat bahagia tinggal di dalam satu keluarga. Bahkan saking terlihat seperti film keluarga, kita bisa dibuat tidak percaya dengan label thriller yang disematkan pada berbagai keterangan mengenai film ini. Namun setelah menyaksikannya agak lama, perlahan-lahan muncul berbagai kejanggalan. Seperti semakin terungkapnya bahwa mereka bukanlah keluarga kandung.

Misalnya, ketika keluarga Shibata baru mengetahui bahwa orang tua kandung Yuri mulai melaporkan kehilangan anaknya setelah beberapa bulan. Info yang didapat dari berita televisi itu membuat mereka menyimpulkannya sebagai pertanda jelas bahwa orang tua kandung Yuri tidak begitu peduli. Bahkan Nobuyo yakin, Yuri memilih dia sebagai keluarganya, seperti yang dikatakan nenek Hatsue bahwa ia memilih Nobuyo sebagai keluarganya juga. Begitupula dengan Aki yang membuat keluarga kandungnya berpikir bahwa ia sedang menempuh pendidikan di Australia. Padahal ia bekerja sebagai wanita penghibur dan lebih memilih untuk tinggal di keluarga Shibata. Nenek Hatsue pun sebenarnya adalah mantan istri dari kakek kandung Aki. Ia mendapat uang secara rutin dari keluarga kandung Aki. Begitu pula Shota, ia adalah anak yang dirawat oleh keluarga Shibata setelah Osamu menemukannya di dalam mobil.

Baca Juga Artikel Berikut!  Novel Naruto Shinden Akan Mendapat Adaptasi Anime

Apakah Kita Berhak Memilih Keluarga?

Meski kejanggalan-kejanggalan itu muncul dan fakta bahwa mereka bukanlah keluarga kandung, sifat-sifat manusiawi dari mereka juga sangat diperlihatkan. Walau mereka terlempar dari keluarga kandung mereka dan tersesat di tengah masyarakat, terlihat sangat jelas bahwa mereka mendambakan keluarga. Osamu ingin dipanggil ayah oleh Shota, dan Nobuyo senang dipanggil ibu. Sayangnya keputusan-keputusan yang mereka ambil dan nilai yang dipegang bertentangan dengan standar masyarakat, meski mereka memiliki pembenaran. Misalnya tentu Yuri (yang kemudian diganti namanya menjadi Lin agar tidak ditemukan oleh orang tua kandungnya) bukan anak mereka secara legal. Namun, dengan alasan melindungi seorang anak dari orang tua yang abusive tidakkah bisa dibilang lebih adil dari sudut pandang si anak. Terutama jika mempertanyakan kembali, apakah sesungguhnya kita berhak memilih keluarga mana yang akan kita tinggali.

Anak-anak seperti Shota dan Lin yang datang paling terakhir di antara mereka. Dan pandangan mereka terhadap hidup yang masih cukup sederhana, seakan menjadi hakim atau penentu bagi orang-orang ini. Shota diajarkan mencuri oleh Osamu dengan alasan palsu. Bahwa barang yang terdapat di toko sebelum dibeli bukanlah milik siapapun. Dan alasan ia tidak disekolahkan karena ia diajarkan bahwa sekolah adalah tempat bagi anak-anak yang tidak bisa belajar di rumah. Namun, nilai yang diajarkan kepadanya itu mulai goyah. Ketika seorang penjaga toko mengetahui dan memberinya hadiah kecil agar tidak mengajarkan Lin, sebagai adiknya untuk mencuri. Kemudian, ia mulai tidak setuju dengan tindakan Osamu yang mengajaknya mencuri barang yang ada di dalam sebuah mobil. Dan pada akhirnya, Shota dengan sengaja membuat dirinya ketahuan saat mencuri dan ditangkap. Seolah ingin mengajarkan kepada Lin bagaimana akibat dari aksi yang ia lakukan.

Baca Juga Artikel Berikut!  Asosiasi Komik Indonesia (AKSI) Diresmikan Hari Ini!

Mereka Adalah Pencuri Yang Keluarganya Dirampas Masyarakat

Setelah tertangkapnya Shota dengan kondisi kakinya yang patah karena menjatuhkan diri dari jembatan ketika dikejar oleh penjaga toko, Osamu dan Nobuyo berada dalam situasi di mana mereka harus memberikan keterangan pada polisi. Kejadian ini kemudian membuat terungkapnya identitas asli Lin, penguburan jenazah nenek Hatsue di bawah rumah keluarga Shibata yang sebelumnya diceritakan meninggal secara mendadak, dan kasus pembunuhan kekasih pertama Nobuyo yang membuatnya harus tinggal dalam penjara. Adegan ini memperlihatkan bagaimana ekspresi wajah para anggota keluarga Shibata yang terasa sangat emosional saat dilakukan interogasi. Nobuyo pun tentu memberikan alasan mengapa ia melakukan hal-hal tersebut, yakni demi membela keselamatan dirinya.

Saat interogasi, Shota diberitahu bahwa keluarga Shibata mencoba melarikan diri dan meninggalkannya. Membuatnya kembali berpikir apakah itu yang dinamakan keluarga, dan kini ia tinggal dalam panti asuhan. Lin atau Yuri kembali ke orang tua kandungnya, ia terlihat begitu ketakutan dan kaku dengan ibu kandungnya, sedangkan dengan Nobuyo ia begitu akrab. Shota dan Osamu yang mengunjungi Nobuyo di penjara, lalu Nobuyo memberikan ciri-ciri mobil yang bisa menjadi petunjuk untuk menemukan orang tua kandung Shota kepadanya. Shota akhirnya memanggil Osamu dengan sebutan ayah, namun ia juga mengungkapkan kekecewaannya mengenai mengapa ia mencoba meninggalkannya dan pergi begitu saja saat naik bis, lalu Osamu mengejarnya. Film ini ditutup dengan adegan Yuri yang menatap dunia luar lewat balkon apartemennya.

Dengan menonton film ini kita menjadi bertanya, apakah mereka memang memilih disisihkan dan terbuang oleh masyarakat dengan menjadi “jahat”? Atau dengan adanya keharusan bagi keluarga untuk memiliki ikatan darah, terdaftar dalam catatan sipil (tanpa mempedulikan jika anggotanya memiliki sifat abusive atau toxic), dan standar lainnya, apakah justru masyarakatlah yang mencuri arti dan nilai keluarga yang sebenarnya dari mereka?