Ponimu Nawala Karsa Promo

Tentang Film One Cut Of The Dead

One Cut of the Dead, film ini diproduksi sebagai sebuah proyek sekolah penyutradaraan dan akting, ENBU Seminar. Film ini disutradarai oleh Shinichiro Ueda, naskahnya ditulis untuk para aktor yang sebelumnya tak pernah dikenal setelah berbulan-bulan berlatih. Awalnya penayangan film ini sangatlah terbatas. Awalnya film ini ditayangkan di sebuah bioskop “art house” yang memuat 84 kursi di Tokyo, dan ditayangkan dalam waktu 6 hari. Setelah berhasil memenangkan penghargaan pada Udine Film Festival, film ini kemudian ditayangkan di 300 bioskop seantero Jepang.

Sinopsis

Film ini menceritakan sekelompok movie maker yang sedang membuat film zombie di sebuah gedung tua. Gedung ini bukan gedung biasa. Ada cerita yang mengatakan bahwa sebelumnya gedung tersebut digunakan militer Jepang untuk pecobaan membangkitkan mayat hidup. Namun ternyata zombie sungguhan datang dan meneror para aktor yang ada di gedung tua tersebut.

One Cut of the Dead adalah film yang sangat berbeda dimana 37 menit pertama pengambilan gambar dilakukan tanpa henti. Film ini bertransformasi dari sebuah film zombie menjadi film unik yang sangat berbeda dari film yang pernah ada. Sebuah karya yang kocak, menghibur, dan original.

Mengangkat Konsep yang Cukup Gila

Bagaimana tidak gila? Bayangkan sebuah pengambilam film, dengan satu kamera, dalam waktu 37 menit dan tanpa henti. Sebuah hal yang mungkin bisa dibilang mustahil. Film ini benar-benar mengambil konsep tersebut, di akhir film ini bahkan ditampilkan di balik layar dari pembuatan film ini.

Tapi mungkin akan berasa bosan dan kurang tertarik pada 37 menit awal ini. Sampai-sampai anda mungkin akan berpikir seperti ini, “Apaan sih ini film, murahan banget!” dan sejenisnya. Saya pun demikian, ada sedikit kekecewaan muncul dari diri saya saat menonton ‘film jadi’ ini. Tapi sebenarnya bukan ‘film jadi’ ini yang ingin ditampilkan film ini, tapi ‘sesuatu yang ada di baliknya’.

Baca Juga Artikel Berikut!  Manga Kishuku Gakkou No Juliet Akan Dirilis Di Indonesia!

Babak Kedua Yang Merubah Segalanya

Tiba-tiba, nuansa film ini berubah seketika dan mengubah total film zombie ini menjadi film komedi yang menarik dan tidak menyeramkan. Mari kita sebut bagian ini ‘babak kedua’ dalam film ini. Babak ini mengambil waktu 1 bulan yang lalu dari pembuatan film ini. Di babak kedua, cara mereka membangun cerita dan karakter yang ditampilkan sangatlah luar biasa. Detail-detail yang ingin disampaikan film ini tidak terbuang begitu saja, semua akan terpakai nantinya. Intinya seperti ini, ‘tidak ada bagian yang tidak penting dalam film ini’.

Kehidupan para karakter yang ditampilkan benar-benar natural. Tidak seperti dibuat-buat, nyata sekali, seperti benar-benar ada kehidupan dalam kisah ini. Akting para aktor dan aktris baru ini juga sangat mendukung sekali. Keluarga, karier, sikap, dan keseleruhan para karakter ini benar-benar menjadi kunci kenapa ‘film jadi’ tadi bisa terjadi. Semua hal ini mari kita sambungkan ke babak terakhir, babak ketiga dari film ini.

Babak Ketiga, Klimaks Yang Luar Biasa

Babak ketiga dari film ini adalah babak terakhir, bagian yang menampilkan pembuatan ‘film jadi’ tersebut. Hal-hal yang dibangun di bagian kedua ini langsung terpakai semua pada bagian ini. Bagian yang membuat saya menarik kekecewaan saya di atas tadi, dan yakin bahwa film ini adalah film yang luar biasa.

Hasilnya, penonton dalam studio bioskop pun terkagum-kagum hingga tertawa dan menangis dalam waktu bersamaan. Bahkan ada yang melompat-lompat dari kursinya saking kagumnya. Saya pun benar-benar speechless saat mengingat kembali film ini dan keramaian saat pemutaran film ini Selasa (27/10) kemarin. Hingga bingung saat ini ingin menulis apa lagi.

Kesimpulan

Mari menyimpulkan sesuatu dari film ini.

‘Film ini adalah film dari seorang yang benar-benar mencintai seni pembuatan film.’

Film ini benar-benar memberi kita gambaran, pahit dan manisnya membuat suatu film. Dari memikirkan konsepnya, susahnya menghadapi aktor-aktris yang bermacam-macam jenisnya, latihan untuk proses syutingnya, hingga proses syutingnya itu sendiri benar-benar digambarkan dengan baik dalam film ini.

Baca Juga Artikel Berikut!  Pekan Sinema Jepang 2018, Perayaan 60 Tahun Hubungan Jepang - Indonesia

Kenapa saya begitu yakin kalau orang yang membuat film ini adalah seorang yang benar-benar mecintai seni pembuatan film ini karena moto pribadinya. Shinichiro Ueda, selaku sutradara, penulis skenario hingga penyunting film ini memiliki moto pribadi seperti berikut:

“Membuat film akan tetap menyenangkan setelah 100 tahun” 

Selain mendapat banyak pujian dari bermacam-macam kritikus film, dan ulasan yang baik, hingga Joko Anwar pun, salah satu sutradara terkenal di Indonesia yang terkenal dengan Pengabdi Setan ini sangat merekomendasikan untuk menonton film ini. Dia bahkan menyebutkan bahwa ini adalah salah satu film favoritnya tahun ini. Berikut cuitan terkait tentang film ini:

Jadi, masih ragu untuk menonton film ini? Film ini sangat sayang sekali untuk dilewatkan! Film ini adalah film persembahan Encore Films Indonesia yang bekerja sama dengan Moxienotion yang sudah ditayangkan di jaringan bioskop CJ CGV Cinemas, Cinemaxx Theater, Flix Cinema dan Lotte Cinema di Indonesia sejak 28 November kemarin. Selain penayangan reguler, film ini juga tayang di perhelatan Pekan Sinema Jepang 2018, sekaligus menjadi film pembuka dari acara ini. Para kru dari film ini juga akan hadir dan memeriahkan acara ini pada tanggal 7 Desember nanti. Kami juga akan membagikan tiket penayangan tersebut, silakan klik post Facebook di bawah ini untuk berpartisipasi.

Hai guys! Nawala Karsa kali ini akan giveaway tiket pembukaan Pekan Sinema Jepang 2018 dengan film One Cut of The Dead,…

Posted by Nawala Karsa on Sunday, December 2, 2018