Ponimu Nawala Karsa Promo

Jakarta, INDONESIA – Pada hari Sabtu (13/10) kemarin, diadakan fans screening film “Boku no Hero Academia The Movie: Futari no Hero” di CGV Grand Indonesia. Fans screening ini adalah penayangan khusus yang diadakan ODEX yang bekerjasama dengan CBI Pictures & CGV. Tidak hanya menonton filmnya lebih awal, tapi para penonton juga akan mendapatkan merchandise resmi yang dibawa oleh ODEX. Saya berkesempatan mengikuti sesi screening ini kemarin. Sekarang, saya akan membuat ulasan tentang film ini.

A Good Movie but Not Good Enough Story

Cerita film ini berlatar “luar negeri”, tepatnya di sebuah pulau bernama “I Island” dan mengambil waktu setelah ujian akhir dari sekolah Yuuei (Awal liburan musim panas).

Pulau I Island, Latar Tempat Dari Film Ini

Sepertinya bentuk pulau ini tidak asing yah, ada yang bisa tebak bentuknya seperti apa? Jawabannya adalah Arc Reactor dari karakter Iron Man. Kohei Horikoshi adalah penggemar komik superhero Marvel Comics. Karenanya mungkin Horikoshi-sensei terinspirasi membuat pulau ini berbentuk seperti Arc Reactor dari karakter komik Marvel tersebut.

Latar waktu dan tempat pada cerita ini saya rasa sudah mendukung alur-nya film. Tapi, film ini hanyalah filler, bukan cerita utama yang ada pada serinya. Jika cerita ini dijadikan canon, masih ada detail-detail yang kurang masuk ke dalam seri utamanya. Hal-hal mendetail itu adalah ceritanya itu sendiri, cerita utama tidak pernah menyinggung apapun yang terjadi pada film ini. Padahal peristiwa film ini sepertinya sama “berbahaya-nya” seperti peristiwa di cerita utama, yang membuat film ini menjadi filler semata. Tidak seperti Swort Art Online : Ordinal Scale, di mana kejadian di film tersebut dijadikan canon untuk menjadi penghubung cerita ke Alicization. Cerita film ini terlalu mengebu-ngebu karena durasinya yang tidak terlalu panjang. Berdurasi 1 jam dan 35 menit, ceritanya dirasa sangatlah kurang. Masih banyak hal-hal seperti back story dan lain-lain yang kurang dimaksimalkan di sini.

Izuku Midoriya & Mellisa Shield Berhadapan dengan Wolfram Villain Utama Film Ini

Walaupun begitu, film ini mempunyai animasi dan adegan aksi yang sangat memanjakan mata. Studio Bones benar-benar membuat film shōnen yang berkualitas, tapi yah dengan kualitas ‘shōnen‘. Adegan aksi yang meledak-ledak dan kolosal disajikan dengan baik dalam film ini. Gerakan animasinya masih dirasa mulus dan ternyata Creator In Pack Jakarta juga turut andil dalam film ini! Hal ini saya ketahui setelah melihat credit roll film ini. Didukung dengan background music yang khas dari Boku no Hero Academia, beberapa adegan dalam film ini berhasil membuat saya merinding.

Baca Juga Artikel Berikut!  Sekuel Baru Shirobako : Bukan Rekap, Menuju Bioskop.

Meet Our New Hero & Villain!

David Shield

Film ini menampilkan 2 karakter orisinal baru, pertama adalah David Shield, ilmuwan yang membuat alat-alat pembantu untuk Hero. Ilmuwan yang terkenal ini merupakan teman semasa muda All Might, saat All Might menjadi murid perturakan pelajar ke Amerika. Karakter ini dibangun dengan baik dalam film ini. Menampilkan sejarah bagaimana dia bertemu dengan All Might muda dan interaksinya dengan All Might dalam film ini menunjukan betapa pentingnya karakter ini. He is a good father and ‘very very good friend’ kind type.

Mellisa Shield

Lalu anaknya, Mellisa Shield, gadis berusia 17 tahun ini adalah seorang quirkless (tidak mempunyai kekuatan). Walau demikian, dia ingin menjadi seorang Hero. Saya menyukai kutipan dari karakter ini yang bunyinya kira-kira seperti ini “Membantu seorang Hero adalah caraku menjadi seorang Hero”. Merupakan heroine utama dalam film ini, dan saya menyukai interaksi karakter ini dengan karakter lain. Diperankan oleh aktris cantik Mirai Shida, karakter ini cukup mencuri perhatian penonton. I mean, she is beautiful, blonde hair, megane girl, and kind of serious cute girl, who would hate this kind of character?

Kedua karakter ini menjadi sorotan utama dalam film ini. Di mana ibunya? Nah ini saya juga penasaran ibunya ke mana? Karena di film ini tidak diceritakan tentang ibunya.

Wolfram

Sengaja melupakan karakter yang satu ini, villain dalam film ini, Wolfram, yang bisa dibilang payah. Mempunyai tujuan yang kurang jelas, less action, dan kurangnya pengenalan yang lebih kuat. Kurang meninggalkan kesan, yang pasti jauh sekali jika dibanding dengan Stain The Hero Killer. Walau memiliki kekuatan yang luar biasa, karakter ini dibuat sangat payah dalam film ini. Kekuatannya bisa dibilang sejajar dengan All For One, tapi dia sendiri diceritakan mendapatkan kekuatan tambahan dari All For One. Setidaknya aksi yang sangat sedikit pada karakter ini sangat dimaksimalkan di akhir. Such a lame Villain.

From Zero To Hero Then To Zero Again?

Deku Dalam Mode Full Cowling

Satu lagi detail yang merusak film ini, yaitu perkembangan para karakter itu sendiri. Di film ini, saya rasa para karakter ini dalam mode yang ‘hebat-hebatnya’. Jika dibandingkan dengan cerita aslinya, pada timeline ini mereka bahkan belum melewati masa ‘latihan perkembangan quirk’ malah adalah kejadian persis sebelum itu. Tapi, entah apakah musuhnya yang terlalu payah, atau mereka yang tiba-tiba di-buff parah, film ini benar-benar menampilkan ‘betapa hebatnya mereka di film ini, dan betapa payahnya di seri yang sebenarnya‘.

Baca Juga Artikel Berikut!  Yuk, Intip Jadwal Terbit Komik Minggu Ini! [31 Oktober 2018]
Todoroki Menggunakan Kemampuan Apinya

I mean, look at them beat the bad guys on this movie is so satisfying lah~ Mereka beraksi layaknya pahlawan yang sebenarnya. Tapi, di seri aslinya? Mereka tidak berani berbuat apa-apa dengan alasan, “belum punya lisensi” detail ini menurut saya sangat merusak jalannya film ini. Memang dalam cerita shōnen hal itu tidak pernah diperhatikan, because this is shōnen. Jadi, apa sih sebenarnya tujuan film ini? Oke pembahasan ini akan dilanjutkan di sub judul berikutnya yaitu;

Overdose Fanservice

Bakugo In Action

Film ini saya rasa hanya menjadi pemuas fans belaka. Bukan fanservice yang menyangkut hal-hal sensualitas dalam arti yang sebenarnya, maksudnya di sini itu fanservice untuk ‘menyenangkan perasaan para fans, dengan hal-hal yang membuat mereka senang’. Gimana-gimana? Okay, let’s take example like… Para karakter itu sendiri. Saya ingat sekali, saat kemunculan para karakter ditampilkan, para penggemar perempuan yang saat itu hadir menonton film ini berteriak sekeras-kerasnya di dalam audi bioskop. Kenapa? Saat awal mereka (para karakter) masuk screen saja, mereka langsung menonjolkan sifat asli mereka yang sudah menjadi kesukaan para fans. Interaksi antar karakter juga demikian, memang interaksi yang baik, tapi menurut saya sedikit dilebih-lebihkan, karena memang ingin menghibur para fans. Terlalu banyaknya fanservice ini bisa menjadi poin plus maupun minusnya juga. Film ini sangat menginginkan para penonton mereka terhibur, intinya film ini menampilkan ‘bagaimana sih jika hero kalian tampil di layar perak?’ kurang lebihnya seperti itu.

Kesimpulan

All Might Muda Saat Berada Di Amerika

Menghibur para fans bisa terlihat menjadi prioritas dari film ini, menurut saya pribadi sih masih bagus, karena saya memang menyukai seri ini. Tapi, bagi penonton yang mungkin menginginkan more then that menurut saya akan sedikit kecewa. Apalagi bagi kalian yang menginginkan perkembangan cerita di film ini, kurasa kalian tak akan mendapatkan apa-apa dari film ini.

“Film shōnen berkualitas, ya tapi dengan kualitas ‘shōnen’.”

Apakah film ini bisa ditonton oleh para penonton yang tidak mengikuti serinya?
Bisa, karena pada awal film mereka memberikan garis besar tentang cerita dari seri ini.

Apakah film ini wajib ditonton oleh para fans Boku no Hero Academia?
Tentu, karena kalian para fans seri ini!

Berapa skor pribadi saya pada film ini?
Jika saya tidak mementingkan perasaan saya maka skornya adalah 7/10. Tapi menurut perasaan saya film ini bernilai PLUS ULTRA/10, karena saya merasa terhibur dengan kehadiran film ini.

 

Leave a Reply